Apa itu Quartz Crisis, saya sudah sering menjelaskan panjang lebar di beberapa artikel sebelumnya, intinya Quartz crisis ini adalah sebuah dampak dari sebuah inovasi yang ada dalam dunia horology yang dibuat oleh Seiko yang dikenal dengan Quartz teknologi sejak 1970-80an, dimana movement jam tangan tidak lagi dibuat tradisional dalam bentuk mekanik melainkan sudah menggunakan teknologi yang lebih Advance sehingga biayanya mampu ditekan sehingga pada akhirnya harganya jauh lebih murah jika dibandingkan dengan tradisional watch making.

waktu itu dampaknya sangat luar biasa, swiss watch making industri porak poranda, banyak merek-merek besar yang pada akhirnya gulung tikar, walaupun pada akhirnya bangkit lagi sejak tahun 1990-an. Teknologi memang berkembang sangat cepat, banyak penemuan-penemuan baru termasuk dalam dunia horology, dari mulai analog Quartz, dikembangkan menjadi digital Quartz, lalu setelah komputer teknologi mulai hadir, pada tahun 2004, mulai muncul yang disebut dengan smartwatch, lalu terus berkembang dan memang proses development smartwatch ini sangat cepat.

Tapi inovasi smartwatch ini tidak berdampak buruk terhadap Tradiotional watchmaking industry, tidak seperti waktu Quartz menyerang tahun 1980-an, kira-kira kenapa kehadiran smartwatch ini tidak berdampak terhadap smartwatch crisis dalam dunia horology.

Ok saya langsung saja, ada 10 alasan kenapa smartwatch tidak bisa berdampak buruk terhadap traditional watch making tidak seperti Quartz Crisis yang terjadi pada tahun 1980-an..

#01. TRADITIONAL HOROLOGY VS TECHNOLOGICAL HOROLOGY

Diketahui smartwatch pertama kali didevelop sekitar tahun 2004 oleh MICROSOFT dengan mengeluarkan yang smartwatch kita kenal dengan Microsoft SPOT, (Smart Personal Object Technology), dimana sudah ada fitur cuaca, berita, FM radio, pergerakan saham, email dan instant messaging.

ini adalah kehebatan komputer, smartwatch seolah memberikan fitur lain selain dari fungsi utama dari sebuah jam tangan itu sebagai penunjuk waktu, itulah teknologi yang akan terus berkembang seiring dengan berjalannya waktu, dan proses perkembangannya pun juga sangat cepat berbeda dengan traditional watch making industry yang seolah IGNORANCE terhadap perkembangan teknologi, apalagi komputer teknologi, teknologi mereka gunakan untuk proses pembuatannya yang lebih advance dibandingkan jaman dulu, pendekatannya bener-bener konvensional benar-benar tradisional jadi ini adalah dua hal yang sangat berbeda,

Apakah smartwatch ini bukan bagian dari horology??, SALAH, smartwatch kalau menurut saya adalah advance developmentnya digital Quartz dengan memadukan computeristed technology.

Smartwatch tetap menjadi bagian industri horology dengan pendekatan teknologi bukan pendekatan tradisional horology, kedua approach ini tidak bisa saling membunuh, tidak seperti dulu pas pertama kali Quartz ditemukan, tujuannya waktu itu sama dengan mekanikal watches yaitu membuat sebuah jam tangan dengan konsep yang sederhana. hanya beda di inovasi movementnya saja, jadi ya bisa saling membunuh seperti yang terjadi di era 1980-an yang kita kenal dengan Quartz Crisis

sekarang ini jam tangan yang berfitur canggih bukan barang baru lagi, tidak seperti dulu makanya kehadiran smartwatch ini tidak berdampak buruk terhadap tradisional watch making industri, justru kehadiran smartwatch ini menjadi alternatif baru dalam industri atau dalam dunia horology.

#02. OLD LOVE VS NEW LOVE

Dari sejak pertama kali jam tangan itu dibuat, tujuannya cuma satu yaitu membuat tools penunjuk waktu yang lebih mudah digunakan, sesimple dengan membalikkan telapak tangan, tidak sesulit seperti pocket watch, dan dari sejak itu bentuk dan juga teknologi mekanis jam tangan bisa dikatakan tidak mengalami perubahan yang terlalu ekstrem, bentuknya, ya itu-itu saja,bentuknya bulat, bentuknya kotak, fitur-fitur nya pun sederhana, paling ditambahkan fitur-fitur yang lebih advance.

Saya coba ambil time line ketika jam tangan berada di era Perang Dunia ke-1, tahun 1900-an, dimana waktu itu, jam tangan sudah mulai dekat dengan manusia dan mulai banyak orang-orang yang menggemari jam tangan dengan bentuk dan teknologi yang itu itu saja, lalu Anggaplah SEIKO mengebrak pada tahun 1980-an, dengan quartz revolutionnya berarti kurang lebih 80 tahunan, orang-orang membangun kecintaan terhadap jam tangan mekanik, sempat diguncang Quartz, sempat terdampak tapi akhirnya bangkit lagi, karena cinta lama yang sudah dibangun selama 80 tahunan,  

lalu anggaplah sejak tahun 2004, diperkenalkan sebuah jam tangan yang high teknologi yang kita kenal dengan smartwatch, artinya orang-orang atau para pecinta jam tangan sudah membangun kecintaan terhadap jam tangannya selama lebih dari 100 tahun, sejak tahun 1900-an, ada bosannya pasti, makanya kehadiran smartwatch ini bisa dikatakan sebagai CINTA BARU, seperti era Quartz dulu, sangat menarik, sangat berbunga-bunga, tapi ya namanya kita sudah membangun cinta lama selama lebih dari 100 tahun, kebanyakan dari kita pada akhirnya kembali lagi ke CINTA LAMA.

dan Smartwatch sebagai cinta baru pada akhirnya untuk beberapa kalangan tidak bisa menggantikan cinta lama yang sudah dibangun, makanya kehadiran smartwatch ini tidak berdampak smartwatch crisis untuk traditional watch making industry.

#03. ART VS GADGET

Apa yang bisa kita lihat dari sebuah smartwatch, ya tentunya adalah kehebatan teknologinya, dimana segudang fitur bisa kita nikmati dari sebuah benda kecil yang ada di pergelangan tangan. tapi apakah ada yang melihat smartwatch sebagai sebuah karya seni, saya yakin TIDAK, sementara di sisi yang lain traditional watch making industry, selalu mengedepankan nilai seni dari sebuah jam tangan yang dipadukan dengan tingkat presisi, juga akurasi dari sebuah mechanical watches.

mereka tahu kalau teknologi saat ini sudah sangat maju, tapi memang bukan itu tujuannya, tujuannya untuk menyajikan sebuah mekanisme gear-gear yang indah, tanpa membutuhkan elektricity, bisa berjalan dengan baik dan akurat.

teknologi dan seni tidak bisa saling membunuh, masing-masing punya penggemarnya dan masing-masing penggemarnya, tahu bagaimana cara menilainya, para watch antusias, biasanya menilai dari sebuah traditional mechanical wathes sebagai karya seni. dan mereka mungkin masih bisa menerima teknologi smartwatch, tapi kebalikannya, para penggila teknologi atau para penggila smartwatch biasanya sulit untuk menerima traditional mechanical watches, apalagi kalau harus menilainya, sebagai karya seni yang dihargai mahal, jadi boomingnya smartwatch, hypenya smartwatch, tidak berdampak buruk terhadap tradisional watch making industry, yang erat sekali dengan horologycal romance, yang satu sebagai karya seni, yang satu sebagai gadget.

#04. HERITAGE VS OUT OF DATE

Saya yakin, kita semua tahu tagline nya PATEK PHILIPPE, "YOU NEVER REALY OWN A PATEK, YOU SIMPLY LOOK AFTER IT FOR THE NEXT GENERATION", dengan membeli Patek Philippe, sebenarnya kita tidak benar-benar memilikinya, kita hanya diminta untuk menjaganya dan diberikan ke generasi berikutnya, sebuah statement yang sangat tegas, yang mengartikan bahwa Heritage atau warisan adalah salah satu pendekatan atau tujuan dari tradisional watch making industri, ada berapa banyak di antara kita yang pertama kali, punya jam tangan mekanik, karena diberikan oleh orang tua, kakek atau warisan dari buyut, saya menemukan banyak sekali, walaupun jam tangannya bukan jam tangan yang baru, tapi itulah yang kita lihat dari sebuah traditional mechanical watch, bahkan saya sangat yakin banyak pasti ada yang hari ini, beli jam tangan mekanik dengan tujuan untuk diwariskan ke generasi berikutnya dikemudian hari.

Tradisi heritage ini memang, erat sekali dengan traditional watch making industri, seolah membangun hubungan baik antar generasi, sementara di sisi yang lain, saya yakin smartwatch belum bisa diperlakukan seperti itu atau mungkin bisa saya katakan, TIDAK BISA, karena teknologi berkembang sangat cepat, cepat sekali berubah, banyak inovasi-inovasi baru dan cepat ketinggalan. katakanlah kita punya apple watch generasi pertama yang sudah dibeli beberapa tahun yang lalu,

Pertanyaannya, Apakah bisa diwarisi?, atau mau mewariskannya kepada generasi berikutnya, pada saat generasi tersebut mereka sudah mulai mengenal apple watch generasi ke delapan bahkan mungkin yang terbaru, saya yakin tidak, karena teknologinya sudah out of date, dan mungkin sudah tidak support beberapa fitur baru yang ada di apple watch generasi ke delapan, misalnya. 

makanya boomingnya smartwatch yang berbasis teknologi yang bisa OUT OF DATE, tidak bisa berdampak buruk terhadap traditional watch making industry, yang mengedepankan nilai heritage yang bisa diwariskan ke generasi berikutnya.

#05. CONNECTION TO PEOPLE VS CONNECT

Saya ambil contoh diri saya sendiri, jam tangan-jam tangan yang punya saya, rata-rata punya sentimental value buat saya, saya yakin juga banyak yang seperti saya, banyak di antara kita yang punya relationship yang sangat erat, antara jam tangan dengan diri sendiri.

coba saja kita lihat betapa orang bisa menghargai sebuah relationship atau hubungan yang erat antara sebuah jam tangan Daytona dengan sosok Paul Newman dan mau menghargainya sangat mahal itulah traditional watch making, membangun hubungan yang sangat erat antara jam tangannya dengan sang pemiliknya, bahkan ada juga yang hubungannya sangat erat secara emosional.

sedangkan smartwatch, saya yakin hubungan eratnya adalah dengan smartwatch atau dengan gadget yang lain, bukan dengan personal dengan diri sendiri, makanya tidak jarang orang yang membeli smartwatch, mereknya sama dengan smartphonenya, misalkan yang punya handphone samsung beli Samsung Gear atau yang pakai iPhone belinya Apple watch, karena mereka ingin menyatukan hubungan yang erat antara smartwatchnya dengan smartphonenya bukan secara personil dengan kita sebagai pemiliknya.

ini menegaskan bahwa kehadiran atau bunyinya Smartwatch tidak berpengaruh atau tidak berdampak buruk terhadap traditional watch making industry.

#06. DEPENDENCY ON ELECTRICITY

ini adalah salah satu alasan kenapa saya, tidak terlalu suka smartwatch, sangat ketergantungan sama listrik, saya sudah charge smartwatch saya, smartwatch saya ada dua, cukuplah dua itu saja, tidak perlu lagi smartwatch, saya rasa dulu, quartz mampu menggoyang traditional watch making industry, karena yang pertama adalah akurat dan yang kedua adalah daya yang dibutuhkan tidak banyak, sehingga baterainya mampu bertahan tahunan tapi kalau smartwatch, memang sangat tergantung sama listrik, pada awalnya tidak terlalu masalah, karena charge itu kan mudah, Selain itu kita bisa beli power bank, bisa dibawa ke mana-mana.

tapi harus saya akui lama-lama cukup menganggu, dan ini terjadi sama IT saya, dia cinta sekali sama appce watch dan dia sering ledekin saya, kenapa ingin punya jam tangan saja repot sekali, harus mikirin balance wheelnya, mikirin power reservenya dan lain-lain.

tapi baru minggu lalu dia mengeluh katanya ingin ganti HUAWEI, karena katanya Apple watchnya baterainya sudah cepat sekali habis, sedikit-sedikit ya harus charge, ini bertolak belakang dengan mechanical watch yang jauh dari kelistrikan atau electricity tidak punya ketergantungan terhadap listrik, tidak harus di charge hanya mengandalkan mekanisme gear-gear yang bekerja dengan sinergi dan relatif akurat, jadi boomingnya smartwatch saya rasa tetap tidak akan bisa menghancurkan atau berdampak buruk terhadap traditional smartwatch watch making industry.

#07. BACK TO BASIC

Smartwatch memang menyuguhkan segudang fitur yang bisa kita nikmati sebagai penggunanya, dari mulai fitur waktu, kemudian kalender, instant messaging, kemudian fitur menghitung detak jantung, fitur-fitur olahraga dan lain-lain.

dan harus diakui itu adalah sebuah tawaran yang sangat menarik dari sebuah smartwatch, mau apapun ada dan sangat bertolak belakang dengan traditional mechanical watches yang cenderung punya fitur-fitur sederhana.

paling top ya fitur kalender atau kalau fitur-fitur advance seperti moonface atau chronograph dan itupun sudah tidak terlalu aplikatif lagi, di era digital sekarang ini. sudah bisa digantikan oleh tools atau gadget yang lain. Kenapa Smartwatch ini belum atau tidak bisa berdampak buruk terhadap industri traditional watch making.

kalau saya tanya, berapa persen sih dari segudang fitur smartwatch yang ada yang betul-betul sering kalian gunakan setiap hari, yang benar-benar berguna buat mendukung aktivitas kita sehari-hari.

karena kalau buat saya pribadi alasan saya untuk tetap stay di mechanical waches, karena dulu pada saat saya pakai smartwatch pun, fitur-fitur yang dipakai ya ujung-ujungnya  itu-itu saja, penunjuk waktu lagi yang akurat, kalender lagi, atau paling tidak ada fitur notifikasi email, ya hanya itu-itu saja, tidak sampai 10% dari segudang fitur yang ada di Smartwatch yang dulu pernah saya punya yang bener-bener saya gunakan, saya yakin kalian juga banyak yang punya pengalaman yang sama seperti saya.

dan tidak usah smartwatch, digital watch saya saja fiturnya yang dipakai, hanya itu-itu saja hanya penunjuk waktu saja.

kemarin saya sempat buat polling beberapa waktu yang lalu, di situ saya bertanya dari segudang fitur smartwatch yang ada, berapa persen fitur-fitur tersebut yang betul-betul dipakai yang benar-benar berguna buat kalian

Dari 300 responden, 50% nyya, lebih tepatnya 52%, memilih di bawah 10%, lalu urutan kedua adalah 10 sampai 25%, urutan ketiga adalah di atas 50% justru, dan urutan yang keempat adalah antara 25 sampai dengan 50%. walaupun saya yakin hasil polling tersebut, belum bisa representatif mewakili seluruh Indonesia apalagi dunia, paling tidak minimal, tergambar bahwa pada akhirnya, BACK TO BASIC, dari dulu jam tangan dibuat sebagai penunjuk waktu pada akhirnya, secanggih apapun fitur dari smartwatch yang kita punya, yang dipakai, ya mungkin, itu itu saja, itu dari beberapa pengalaman saya, dan itulah alasanya, boomingnya smartwatch dengan segudang fitur tersebut belum bisa atau tidak bisa berdampak buruk terhadap traditional watching industry, karena pada akhirnya orang-orang, Back to Basic, kembali lagi ke fungsi asal.

#08. CONFUSION

Tren boomingnya, smartwatch pada akhirnya akan berdampak kepada pertumbuhan jumlah produsen smartwatch yang sangat pesat, banyak bermunculan berbagai merek smartwatch dari yang mainstream, sampai ke merek-merek yang kita tidak pernah tahu sama sekali, tiba-tiba muncul di marketplace, dari mulai yang harganya ratusan ribu sampai dengan harganya jutaan.

pada akhirnya kita sebagai customer jadi bingung karena terlalu banyak pilihan yang disuguhkan, dari mulai banyak yang mereknya yang ada, harganya, fitur-fiturnya apa, kekuatan baterainya apa dan lain-lain.

yang terjadi adalah kita malah kelamaan untuk memilihnya karena sangat menghubungkan pilihannya, terlalu banyak dan kita sudah tidak melihat lagi sejarahnya karena kita dipaksa fokus untuk melihat speknya bagaimana, harganya gimana, fitur-fiturnya apa dan lain-lain.

makanya kebingungan atau confusion inilah, yang bikin smartwatch yang booming atau hype ini belum bisa atau tidak bisa berdampak buruk terhadap traditional watch making industry.

#09. INDUSTRY MATURITY

Sejak diserang Quartz crisis, pada tahun 1980-an, traditional watch making industry semakin siap untuk menghadapi serangan-serangan teknologi berikutnya, industrinya saat ini sudah terbangun, jauh lebih dewasa, bahkan sangat dewasa, didukung oleh sosial media yang bisa diakses oleh seluruh dunia, untuk terus menambah atau menumpuk para penggemarnya, atau para loyalisnya, atau para customernya makanya ketika diserang oleh smartwatch hype atau boomingnya smartwatch, traditional watch making industry relatif tidak bergeming karena secara infrastruktur, sudah jauh lebih mature atau jauh lebih dewasa. dan infrastruktur nya pun sudah siap untuk serangan-serangan berikutnya.

#10. TOTALLY DIFFERENT MARKET

ini sebenarnya kesimpulan dari poin-poin yang tadi sudah saya sampaikan, pada akhirnya smartwatch ataupun traditional mechanical watches merupakan, dua pasar yang sangat berbeda, para penggila smartwatch atau para pengguna teknologi, mungkin agak berat untuk berpaling ke traditional mechanical watch, sebaliknya para traditional watch making antusias, lebih bisa membuka diri untuk menerima kemajuan teknologi yang ada di smartwatch.

untuk melengkapi jam tangan mekanik mereka dengan fitur-fitur yang lebih modern, makanya mungkin kalian sering atau beberapa kali melihat orang-orang yang pakai dua jam tangan, sebelah kanan pakai mechanical watches, sebelah kirinya pakai smartwatch, karena pada akhirnya smartwatch bisa diposisikan sebagai jam tangan watch for everbody, karena bisa diperlakukan sebagai tools ataupun sebagai benda fashion. sementara traditional mechanical watches punya penggemar sendiri, yang masing-masing penggemar tersebut tidak bisa saling membunuh, dua industri yang akan tumbuh, masing-masing meramaikan pasar horology dunia.

sebagai catatan, disini saya tidak bicara yang mana yang lebih bagus dan yang mana yang jelek. keduanya punya tujuan yang berbeda, disini saya hanya ingin menjelaskan, kenapa kehadiran smartwatch yang booming dengan segudang fitur yang mereka tawarkan, belum bisa atau tidak bisa berdampak buruk terhadap traditional watch making industri, tidak seperti dulu, pada tahun 1990-an, ketika Quartz teknologi ditemukan dan berhasil memporak-porakdakan traditional watch making industry di Swistzerland, yang kita kenal dengan QUARTZ CRISIS momen..

Bagaimana menurut pendapat kalian?